Kisah Inspiratif Islam Tentang Cinta

Banyak sekali Kisah Inspiratif Islam Tentang Cinta yang menyentuh hati dan diakhiri dengan hidup bahagia bersama sang pujaan hati. Sejak dahulu kala, banyak sekali kisah cinta Nabi dan para sahabat yang tak kalah romantisnya dengan zaman sekarang. Bahkan, beberapa di antaranya disebut-sebut seperti cerita dari film bergenre romantis yang laris manis di pasaran. Rangkaian kisah cinta ini bisa menjadi pelajaran dan inspirasi agar kehidupan rumah tangga tetap berada di jalan Allah SWT.

Berikut Islampluss.com siap mengulas sederet kisah cinta Islami yang menyentuh hati.

5 Kisah Inspiratif Islam Tentang Cinta

1. Rasulullah SAW dan Khadijah binti Khuwailid

Kisah Inspiratif Islam Tentang Cinta
Kisah Inspiratif Islam Tentang Cinta

Teladan umat Islam adalah Nabi SAW. Ia membuktikan cintanya pada Khadijah tetap abadi meski istrinya telah meninggal. Jauh sebelum itu, ternyata Rasulullah sudah memendam cintanya pada Khadijah sebelum mereka menikah.

Setahun setelah kejahatan Khadijah, ada seorang wanita shababiyah yang mendatangi Rasulullah, lalu bertanya, “Ya Rasulullah, kenapa kamu tidak menikah? Kamu mempunyai sembilan keluarga dan harus melaksanakan seruan besar.”

Dengan berlinang air mata, Nabi menjawab, “Apakah ada orang lain setelah Khadijah?”

Seandainya Allah SWT tidak memerintahkan Muhammad SAW untuk menikah, tentu beliau tidak akan menikah selamanya. Nabi Muhammad SAW menikahi Khadijah layaknya seorang laki-laki.

Sedangkan pernikahan yang dilakukan setelahnya hanya karena tuntutannya sebagai Nabi SAW. Ia tidak pernah melupakan Khadijah, meski istrinya telah meninggal selama 14 tahun.

2. Nabi SAW dan Aisyah

Ketika Nabi Muhammad SAW ditanya siapa istri yang paling dicintainya, tanpa berpikir dua kali Nabi akan menjawab nama Aisyah. Namun ketika ditanya tentang cintanya pada Khadijah, dia menjawab “Tuhan memberiku cinta itu.”

Kecintaan Nabi kepada Aisyah dan Khadijah berbeda-beda, dan keduanya memiliki daya tarik tersendiri. Khadijah memiliki pesona jiwa yang dewasa. Pesona inilah yang memunculkan cinta sejati yang Allah SWT kirimkan ke dalam jiwa Nabi SAW.

Tak heran jika rasa cinta Rasulullah tak kunjung hilang meski Khadijah telah tiada, sehingga Aisyah pun iri padanya. Sedangkan pesona Aisyah merupakan perpaduan antara kecantikan, kecerdasan, dan kedewasaan diri.

Ummu Salamah pernah berkata, “Rasulullah tidak bisa menahan diri jika bertemu Aisyah”. Banyak kisah romantis yang menghiasi kehidupan keluarga Nabi Muhammad SAW dan Aisyah.

Rasul pernah lomba lari bersama Aisyah, memanjakan dirinya dengan Aisyah. Nabi menyematkan nama panggilan favorit Aisyah dengan memanggilnya Humaira. Rambut Rasul juga pernah disisir oleh Aisyah, dan masih banyak lagi kisah romantis lainnya yang serupa dengan pasangan suami istri ini.

3. Thalhah bin ‘Ubaidillah

Dikisahkan pada suatu hari Talha bin ‘Ubaidillah sedang berbincang dengan Aisyah istri Nabi Muhammad SAW yang masih dianggap sepupunya. Rasulullah datang dan wajahnya langsung berubah tidak setuju.

Dengan isyarat, ia mempersilakan Aisyah masuk ke dalam kamar. Wajah Thalhah tiba-tiba memerah dan dia mundur sambil bergumam dalam hatinya, “Dia melarangku berbicara dengan ‘Aisyah. Tunggu saja, jika dia sudah meninggal dunia oleh Allah, aku tidak akan membiarkan orang lain mendahuluiku untuk melamar ‘Aisyah.”

Gumaman hati dan ucapan Talhah wahyu dan Allah menurunkan firman-Nya kepada Rasulullah pada ayat ke-53 dalam surat Al-Ahzab yang berbunyi:

“Dan apabila kamu meminta sesuatu kepada istri Nabi, maka mintalah dari balik hijab. Dengan demikian lebih suci hatimu dan hati mereka.

Ketika ayat itu dibacakan kepadanya, Thalhah menangis. Ia kemudian membebaskan budaknya, menyumbangkan 10 ekor unta ke jalan Tuhan, dan melakukan jahi dengan berjalan sebagai bentuk taubat atas ucapannya.

Sebaliknya, Thalhah menamai putri kecilnya Aisyah binti Thalhah. Seorang wanita menawan yang menjadi permata pada masanya berkat penampilan, kecerdasan, dan kecemerlangannya. Sama seperti Aisyah binti Abu Bakar yang pernah dicintainya.

4. Umar bin Abdul Aziz

Kisah Inspiratif Islam Tentang Cinta
Kisah Inspiratif Islam Tentang Cinta

Suatu hari, khalifah paling terkenal di Dinasti Bani Umayyah yaitu Umar bin Abdul Aziz jatuh cinta pada seorang wanita. Namun istrinya, Fatimah binti Abdul Malik, tidak pernah mengizinkan suaminya menikah lagi.

Kemudian, Umar dikabarkan jatuh sakit karena kelelahan usai mengurus urusan pemerintahan. Fatimah pun datang bersama seseorang yang spesial untuk menghibur suaminya.

Ia menghadirkan wanita yang sudah lama dicintai Umar. Ternyata wanita itu juga diam-diam memendam perasaan terhadap Umar. Namun Umar berkata, “Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Aku sungguh tidak akan mengubah diriku jika kembali ke dunia perasaan seperti itu,”

Akhirnya dia menikahkan wanita itu dengan pria lain. Tidak ada cinta mati di sini. Sebelum meninggalkan rumah Umar, wanita itu bertanya, “Umar, dulu kamu mencintaiku. Tapi di manakah cinta itu sekarang?”

Umar terharu karena haru, ia lalu menjawab, “Cinta itu masih ada, bahkan kini terasa lebih dalam.” Pilihan Redaksi

Umar terguncang haru, ia kemudian menjawab, “Cinta itu masih ada, bahkan kini terasa lebih dalam.”

5. Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra

Kisah Inspiratif Islam Tentang Cinta
Kisah Inspiratif Islam Tentang Cinta

Cinta antara Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra luar biasa indah dan menginspirasi. Cinta mereka dirahasiakan dalam sikap, ekspresi dan perkataan mereka, sehingga Allah SWT mempersatukan mereka dalam ikatan pernikahan.

Konon iblis itu sangat rahasia sehingga dia tidak mengetahui tentang perasaan cinta yang mereka berdua miliki. Ali sudah lama terpesona pada Fatimah, karena kesopanan, pengabdian, ketangkasan kerja dan penampilan menawan putri kesayangan Nabi Muhammad SAW.

Hati Ali sakit saat melihat Abu Bakar dan Umar bin Khattab melamar Aisyah, padahal dia sendiri belum siap melakukan hal serupa. Namun kesabarannya membuahkan hasil yang manis.

Lamaran kedua sahabat Nabi yang tak perlu diragukan lagi kebenarannya itu rupanya ditolak Nabi SAW. Dari situlah Ali akhirnya memberanikan diri untuk melamar Fatimah dan ternyata lamarannya yang hanya berupa baju besi diterima.

Di sisi lain, Fatimah rupanya sudah lama memendam rasa cintanya pada Ali. Setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali, “Maafkan aku, karena sebelum aku menikah denganmu. Suatu ketika aku jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya,”

Ali pun bertanya mengapa Fatimah masih ingin menikah dengannya dan apakah ia menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum, Fatimah menjawab, “Pemuda itu adalah kamu.”